Tradisi Liberalisme Politik dan Ekononomi di Barat

Posted: Mei 22, 2009 in Uncategorized

BAB I  PENDAHULUAN

A.1 Tradisi Liberalisme Politik dan Ekononomi di Barat

Untuk memahami liberalisme, kita perlu mengenal konteks sejarah tumbuh dan berevolusinya paham ini, serta pengaruh dan konfliknya dengan isme-isme yang lain. Dengan segala perubahannya, liberalisme sekarang merupakan paham yang dominan di barat. Kita akan melihat bagaimana pemikiran ini mempengaruhi individu dan pemerintah barat dalam interaksi mereka, terutama di bidang politik dan ekonomi. Kata “liberal” berasal dari bahasa Latin yang bisa diartikan kebebasan. Liberalisme sendiri tidak mempunyai batasan definisi khusus, hanya seringkali disebut sebagai ideologi yang mengutamakan kebebasan individu. Prinsip inilah yang selalu dominan dalam setiap evolusi makna istilah liberalisme. Perbedaan pendapat yang utama dalam paham ini adalah peranan negara dalam konteks kebebasan individu tersebut. Makna liberalisme juga sering dikaitkan dengan slogan Revolusi Perancis, “Kebebasan, Kesetaraan, dan Persaudaraan”. Untuk keperluan artikel ini, slogan tersebut ditambah dengan batasan di atas cukup memadai untuk dipakai sebagai makna orisinal liberalisme.Dalam Makalah ini, karakteristik liberalisme akan dibahas berdasarkan konteks munculnya karakteristik tersebut. Ini bertujuan memudahkan memahami mengapa suatu perubahan pemikiran terjadi dan apa efek selanjutnya.

Berbagai revolusi melahirkan, membentuk dan sekaligus dilahirkan dan dibentuk oleh liberalisme. Ibarat bibit, kelangsungan hidupnya untuk menjadi pohon tergantung dimana dia berada. Karakteristik pohon tersebut adalah karakteristik lingkungan tempat dia tumbuh. Dan sebagai pohon, dia juga mempengaruhi kualitas udara dan tanah habitatnya.

  • Revolusi Iptek. Reformasi gereja di abad 16, dilanjutkan dengan perang agama di abad 17 mendorong banyak rakyat Eropa mulai skeptis tentang siapa yang benar dalam konflik ini. Sebelumnya mereka yakin raja mempunyai kuasa langit (divine rights) yang tidak bisa diganggu gugat. Revolusi iptek abad 17 dan 18 memberikan inspirasi bahwa kebenaran bisa didapat melalui metoda ilmiah. Apa yang diterima melalui panca indra (observasi, empiris) harus diverifikasi oleh nalar (matematis). Apa yang dibuktikan oleh matematika (nalar) harus didukung oleh bukti-bukti empiris hasil observasi. Hasil-hasil yang dicapai Newton, misalnya, membuat orang percaya bahwa alam semesta ini teratur dan berjalan sesuai hukum Tuhan, bukan hukum agama yang dibawa gereja. Keberhasilan metoda ilmiah untuk memahami alam semesta mendorong para pemikir untuk mengaplikasikan nalar dan metoda empiris ke ilmu sosial. John Locke, pemikir dari Inggris, berpendapat bahwa sebagaimana alam semesta yang berjalan sesuai dengan aturan dari Tuhan, demikian pula manusia. Aturan yang mendasari keberadaan manusia adalah hak-hak individunya, yaitu kehidupan, kebebasan dan pemilikan.
  • Revolusi Amerika. Pengaruh terbesar John Locke ada pada Revolusi Amerika. Di Amerika menyebar kesadaran bahwa raja tidak punya hak mutlak atas rakyatnya (monarki absolut). Rakyat Amerika tidak mau membayar pajak yang besar hanya untuk menambah kas Inggris, tanpa kompensasi perwakilan dan pemerintahan. Kewajiban yang dibebankan tersebut dianggap melanggar nilai-nilai kehidupan dan kebebasan. Nilai-nilai inilah yang menjadi landasan deklarasi kemerdekaan Amerika oleh Jefferson. Tidak seperti Locke, Jefferson menganggap hak milik bukanlah hak yang samawi. Dia menggantinya dengan hak mengejar kebahagiaan, yang mungkin ada kesamaan dengan ide Aristoteles sebagai tujuan hidup. Hak-hak ini kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam berbagai kewajiban negara untuk melindungi kepentingan rakyatnya (Bill of Rights – Madison). Perlu diingat, hak-hak tersebut pada awalnya hanya berlaku untuk laki-laki merdeka. Baru tahun 1920, wanita ikut dalam Pemilu nasional di AS. Lebih parah lagi adalah masyarakat kulit hitam, yang hak-haknya lama menjadi korban kepentingan ekonomi dan alat bagi orang-orang yang punya hak penuh untuk mengejar kebahagiaan mereka.
  • Revolusi Industri – Liberalisme Ekonomi dan Kapitalisme.Populasi Inggris di abad 17 dan 18 mengalami lonjakan pesat. Selain itu, dengan lancarnya jalur pelayaran ke Asia dan Afrika, mengalirlah kekayaan hasil eksploitasi kedua benua tadi. Hal ini menciptakan golongan baru, di luar kelas tradisional seperti gereja dan bangsawan, yang mempunyai kapital besar. Modal tenaga kerja dan kapital ini ditambah dengan ditambah dengan berbagai penemuan, seperti mesin uap, mendorong tumbuhnya berbagai industri baru. Revolusi industri inilah yang menjadi lahan berkembangnya liberalisme ekonomi. Ide Adam Smith tentang pembagian kerja dan spesialisasi untuk mengoptimalkan produksi diterapkan di berbagai pabrik. Bahan dan hasil industri diperdagangkan di pasar bebas dengan seminimal mungkin campur tangan pemerintah (invisible hand), dan didasarkan atas asas comparative advantage. Ini semua menciptakan, paling tidak bagi kaum bermodal, kebebasan dan kesetaraan ekonomi (dalam berdagang, investasi, dll) yang menjadi awal dari kapitalisme. [Kapitalisme sudah dibahas di kelas sebelumnya.
  • Revolusi Perancis – Liberalisme Politik dan Nasionalisme. Revolusi Amerika terjadi lebih dahulu daripada Revolusi Perancis, tetapi karena jarak dan ketidak-tahuan, pengaruhnya hampir tidak terasa di Eropa daratan. Revolusi Perancis dan kejadian setelahnya, di lain pihak, membawa pengaruh besar di Eropa daratan terhadap kesadaran akan kebebasan dan kesetaraan berpolitik, sesuai dengan slogannya. Revolusi ini menghilangkan diskriminasi agama (Katolik vs Protestan). Rakyat menjadi punya kebebasan mengemukakan pendapat dan menentang penguasa. Kesetaraan juga berarti rakyat merasa punya status yang sama dengan bangsawan dan ahli gereja. Akhirnya, terjadi perombakan institusi pemerintahan besar-besaran dari bentuk monarki menjadi republik. Setelah Revolusi, Napoleon merusak batasan-batasan geografis dan tradisi dari kerajaan-kerajaan Eropa waktu itu. Selain itu, rakyat biasalah yang melawan Napoleon, bukan kalangan bangsawan atau gereja. Mereka merasa punya kewajiban untuk membela tanah air dan ikatan dengan sesama rakyat, bukan ikatan pada kerajaan. Ikatan nasionalisme ini melahirkan tuntutan akan hak-hak rakyat untuk terlibat dalam pemerintahan. Inilah awal runtuhnya berbagai kerajaan, dan lahirnya berbagai negara Eropa modern yang kita kenal sekarang ini.

Reaksi dan Evolusi Pemikiran. Perubahan yang dibawa liberalisme di berbagai bidang membawa berbagai reaksi dari berbagai golongan. Selain itu juga timbul perbedaan pandangan di dalam liberalisme itu sendiri.

Konservatisme
Golongan ini menentang penekanan liberalisme pada hak-hak individu yang menyebabkan terabaikannya tradisi kolektif suatu masyarakat. Misalnya, mereka memandang liberalisme merusak tradisi dan nilai-nilai sosial kebangsawanan. Mereka menganggap masa lalu lebih baik dan tradisi sosial harus dijunjung tinggi.

Sosialisme
Di lain pihak, penganut paham sosialisme merasa liberalisme perlu dibawa lebih jauh lagi. Kebebasan ekonomi dan revolusi industri menciptakan berbagai efek samping dalam kehidupan sosial yang timpang. Karena itu, golongan ini berpendapat kebebasan mungkin harus dikorbankan demi kesetaraan. [Sosialisme sudah dibahas di kelas sebelumnya.]

Utilitarianisme
Asas dari paham yang digagas oleh Bentham dan Mill (Inggris) ini adalah memaksimalkan manfaat untuk sebanyak-banyak orang. Paham ini tumbuh subur di Inggris dan merupakan salah satu sebab liberalisme politik di Inggris berjalan relatif damai, selain pengaruh Revolusi Amerika dan status Inggris sebagai negara Protestan. Di bidang politik, penekanannya adalah pada perubahan konstitusional bukan perubahan institusi seperti Revolusi Perancis yang berdarah. Perubahan konstitusional dipandang lebih membawa manfaat yang besar untuk banyak orang. Inilah mengapa sampai sekarang monarki masih bertahan di Inggris. Dari asasnya, jelas bahwa paham ini mendukung timbulnya demokrasi dan pemilihan umum untuk mengetahui jumlah orang yang paling merasakan manfaat dari suatu aturan. Pengaruh paham ini pada iptek juga mendukung revolusi industri. Prioritas di bidang pendidikan diberikan kepada iptek terapan, yang manfaatnya lebih terasa langsung. Kritik terhadap paham ini terutamanya menyangkut penghitungan dan pendefinisian manfaat yang sangat relatif di setiap orang ataupun budaya. Juga timbul kritik terhadap pemenuhan manfaat semata dengan mengabaikan kebebasan. Misalnya, orang yang merasa terpenuhi semua kebutuhannya (melalui obat-obatan, atau seperti dalam novel terkenal, A Brave New World), tapi terikat kebebasannya.

KontrakSosial. Kalau semua orang bebas melakukan apa saja, bagaimana negara dan hukum tercipta? Pertanyaan itulah yang ingin dijawab melalui kontrak sosial. Thomas Hobbes merasa pesimis dengan sifat dan kelakuan manusia. Menurutnya, kalau dibiarkan saja, manusia akan saling mencelakakan. Karena itulah manusia melakukan kontrak sosial dan membentuk suatu negara yang berkuasa untuk melindungi rakyatnya.

Sementara itu, Adam Smith lebih optimis dalam penilaiannya terhadap manusia. Dia melihat manusia masih punya sifat baik dan ingin menolong. Bahkan dengan usahanya untuk memperbaiki dirinya sendiri, setiap individu akhirnya memperbaiki masyarakatnya. Karena itulah peran negara harus dikurangi, karena individu bisa menjaga diri sendiri dan menolong orang lain yang kurang mampu.

A.2 Liberalisme Sekarang
Liberalisme keluar sebagai pemenang dalam pertempuran senjata, ekonomi, dan ideologi dengan Fasisme dan Sosialisme di abad ke 20. Perhatian sekarang lebih diberikan pada masalah-masalah sosial, serta apa dan seberapa peran pemerintah di dalamnya.

Keadilan Sosial.Dalam bukunya, Theory of Justice (1971), John Rawls (Harvard) menyempurnakan ide kontrak sosial dengan menambahkan perlunya keadilan sosial. Rawls ingin menciptakan kontrak yang memberi manfaat terbesar bagi individu yang paling tidak mampu. Kontrak ini dicapai ketika individu yang membuat kontrak tidak tahu tentang kemampuan dan status sendiri. Dengan demikian, dia akan memilih kontrak yang tidak merugikan orang yang tidak mampu, kalau-kalau dia sendiri nanti berada di posisi itu.Karena itu, negara sebagai pemegang kontrak, haruslah memperhatikan hak-hak orang kurang mampu, biarpun mereka minoritas. Setiap manfaat yang diciptakan oleh pemerintah, harus dirasakan sebesar-besarnya oleh mereka yang berada di posisi paling bawah, harus paling menguntungkan orang yang paling tidak beruntung.Bisa dikatakan bahwa ide ini merupakan aplikasi salah satu slogan Revolusi Perancis, yaitu Persaudaraan. Dalam suatu keluarga ideal, orang tua sebagai pemerintah, bekerja keras membantu semua anak-anaknya. Dan di antara kakak beradik, berusaha saling meringankan beban saudaranya.Kritik utama dari paham ini adalah bahwa tidak semua orang punya kecenderungan takut resiko. Orang yang berani menanggung resiko, cenderung memilih kontrak yang akan menguntungkan kelas atas, dengan harapan bahwa mereka akan berada disitu dan mendapat keuntungan sebanyaknya.

Libertarianisme
Prinsip utama dari paham ini adalah suka rela. Segala sesuatu yang dikerjakan oleh individu haruslah suka rela, bukan paksaan dari pihak lain termasuk negara. Pajak bagi mereka adalah satu bentuk pemaksaan. Kebutuhan yang ingin dipenuhi lewat pajak bisa tercapai lewat berbagai program hasil inisiatif suka rela masyarakat. Libertarianisme sering disebut sebagai liberalisme klasik, karena golongan ini ingin mengembalikan liberalisme seperti aslinya. Mereka menganggap peran negara semakin membesar dan merongrong kebebasan individu. Peran pemerintah haruslah seminimal mungkin, yaitu untuk memastikan satu-satunya kewajiban individu, untuk tidak mengganggu kebebasan individu lain.

Liberal dan Konservatif di AS. Golongan liberal di AS sekarang ini mempunyai prinsip yang mirip dengan Rawls. Kebebasan individu adalah penting, tetapi peran pemerintah diperlukan di dalam menjamin hak-hak kaum minoritas. Mereka mendukung berbagai program sosial pemerintah, seperti Social Security, Affirmative Action, dll.

Golongan Liberal juga lebih universalis. Bagi mereka, AS adalah bagian integral dari dunia internasional. Prinsip ini berarti AS harus terlibat dalam permasalahan internasional, terutama menyangkut masalah kemanusiaan (Rwanda, Ethiopia, Sudan), kestabilan politik regional (Perang Dunia I, Bosnia), kestabilan ekonomi regional (bantuan ke Argentina, Meksiko).

Sejalan dengan prinsip internasional ini, Liberal pada umumnya lebih menghormati pelaksanaan HAM dan hukum-hukum internasional. Ini menyebabkan – dalam kaitannya dengan kebijakan terhadap Muslim di dalam AS – mereka relatif lebih lunak dalam memperlakukan warga negara asing, karena mereka ingin warga AS diperlakukan sama di luar negeri.

Di sisi lain, Konservatif cenderung ingin mengurangi peran negara dalam masalah sosial dan ekonomi. Mereka mendukung privatisasi dan sistem perdagangan yang lebih bebas, pengurangan pajak, dan kebebasan rakyat untuk mendirikan dan membantu secara suka rela institusi ekonomi dan sosial.

Konservatif juga berbeda dengan Liberal dalam masalah nilai-nilai moral (agama). Konservatif ingin menjaga tradisi sosial dan keluarga. Ini terlihat misalnya dalam kasus pernikahan sesama jenis, pengguguran kandungan, dll.

Dalam hubungannya dengan negara lain, Konservatif cenderung lebih nasionalis. Mereka mengutamakan pertahanan dalam negeri dan perlindungan terhadap kepentingan AS di luar negeri. Kepentingan dunia internasional yang mempunyai potensi merugikan AS sering harus dikorbankan (mengundurkan diri dari Kyoto Treaty, menolak Mahkamah Internasional, veto terhadap keputusan PBB, dll).

BAB II PEMBAHASAN

B.1 MANFAAT DAN KELEBIHAN LIBERALISASI EKONOMI (Liberalisasi Pasar Dengan Konsep Perdagangan Internasional).

Berbicara tentang liberalisasi ekonomi tidak bisa dilepaskan oleh liberasi pasar, yang dimaksud disini adalah adanya perdangan terbuka yang tidak lagi hanya melibatkan suatu instansi dengan instansi lainnya, Negara dengan Negara melainkan ada hubungan pasar anata individu dengan individu, ataupun individu dengan kelompok, individu dengan Negara ataupun sebaliknya. Dengan adanya liberalisasi ekonomi maka akan mengurangi pengaruh campur tangan pemerintah terhadap masalah ekonomi, yang dimaksud disini adalah pemberian kebebasan kebada individu atau kelompok untuk menentukan kebijakan-kebijakan tersendiri yang dapat mensejahtrakan kehidupan mereka. Dalam hal ini Konsep perdagangan dunia secara umum dibangun berdasarkan pemikiran keunggulan komparatif dan daya saing yang berbeda antara negara. Jika negara-negara berproduksi dan berdagang dengan mengacu pada keunggulan komparatif dan persaingan, maka diyakini akan meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya yang langka sehingga tercapai tingkat kesejahteraan dunia yang lebih baik. Keunggulan komparatif merupakan konsep yang telah berusia 250 tahun namun tidak tergoyahkan hingga saat ini. Makalah ini bertujuan memperlihatkan sisi gelap konsep keunggulan komparatif dan daya saing dan memperkenalkan konsep keunggulan kooperatif. Makalah ini memperlihatkan bahwa konsep keunggulan kooperatif dalam hubungan internasional akan memberikan dampak yang jauh lebih menjanjikan dibandingkan dengan konsep keunggulan komparatif dan daya saing. Secara matematika diperlihatkan bahwa sikap kooperatif dalam hubungan negara­negara akan memberikan lebih banyak manfaat terutama dalam menciptakan efisiensi dunia, distribusi pendapatan, kesejahteraan yang lebih tinggi dan kedamaian dunia. Sedangkan janji yang diberikan oleh konsep keunggulan komparatif dalam pasar bersaing hanyalah sebuah ilusi. Teori konvensional tentang perdaga­ngan internasional telah memperlihatkan bahwa perdagangan dunia yang bebas dapat meningkatkan kesejahteraan negara-negara yang terlibat dalam perdagangan tersebut. Teori perdagangan dunia mempunyai thesis dasar yang mengatakan bahwa setiap negara mempunyai keunggulan komparatif absolut dan relatif dalam menghasilkan suatu komo­ditas dibandingkan negara lain. Berdasarkan keunggulan komparatif tersebut, maka suatu negara akan mengekspor komoditas yang mempunyai keunggulan komparatif yang lebih tinggi dan mengimpor komoditas yang mem-punyai keunggulan komparatif yang lebih rendah. Perdagangan antar negara akan membawa dunia pada penggunaan sumberdaya langka secara lebih efisien dan setiap negara dapat melakukan perdagangan bebas yang menguntungkan dengan melakukan spesialisasi produksi sesuai dengan keunggulan komparatif yang dimilikinya.

Prinsip sederhana ini merupakan dasar yang tidak tergoyahkan dalam konsep perdagangan internasional (Samuelson dan Nordhaus, 1992), namun belum dapat menjenlaskan banyak pertanyaan. Teori perdagangan internasional kemudian berkembang lebih jauh seperti teori keunggulan daya saing yang meletakan harga dunia sebagai mercusuar lalulintas pertukaran barang-barang antar negara. Melalui mercusuar ini dunia boleh berharap penggunaan sumberdaya dunia akan lebih efisien dan menciptakan kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi. Semua teori perdagangan memperlihatkan bahwa perdagangan bebas membawa manfaat bagi negara yang berdagang dan dunia. negara maju. Sebagai contoh adalah Amerika Serikat dan Canada. Sebagai dua negara kaya yang tidak perduli dengan kemiskinan negaranegara Amerika Latin yang menjadi tetangganya.

  1. Perseteruan tidak saja terjadi antara pendukung perdagangan bebas sesamanya, tetapi juga dengan negara-negara yang anti perdagangan bebas. Perseteruan ini telah terjadi sejak zaman Ricardo dan sampai sekarang tidak dapat diselesaikan. Tulisan Wibowo (2003) sedikit banyak dapat menggambarkan perkembangan terakhir tentang perseteruan antara kubu yang mendukung liberalisme pasar dunia yang bergabung dalam World Economic Forum (WOF) dan pihak yang menentang yang bergabung dalam World Social Forum (WSF) yang semakin meruncing. WSF mendakwa bahwa liberalisme perdagangan dengan azas persaingan, kapitalisme dan spesialisasi merupakan biang kerusakan lingkungan, penjajahan ekonomi, pengurasan negara maju terhadap negara lemah dan sebagainya. Wibowo memprediksi bahwa pertarungan WOF dan WSF akan terus mewarnai dunia abad ke 21. Rangkaian peristiwa tersebut telah menjadi saksi sejarah yang memperlihatkan bahwa konsep keunggulan komparatif dan daya saing gagal membuktikan keunggulan dirinya. Sungguh, dunia sedang melaksanakan suatu sistem perdagangan yang tidak nyaman. Apakah perdagangan internasional itu harus seperti ini? Pertanyaan ini belum juga terpecahkan (Gilpin dan Gilpin, 2000), bahkan dalam abad 21      sekarang (Wibowo,     2003).Sidang WTO yang berlangsung di Cacun Meksixo tahun 2003 telah gagal mengambil kesepakatan pengurangan tarif dan subsidi di negara maju (Wibowo, 2003)2. Pada masa datang, perdebatan akan terus berlangsung antara para pendukung liberalisme dan para pendukung proteksionisme. Memang, hanya atas dasar itu, sebagian besar negaranegara dunia sepakat melakukan liberalisasi perdagangan internasional dan mereka bergabung dalam satu organisasi yang disebut WTO (World Trade Organization) yang berdiri tahun 1995. Menjadi anggota WTO berarti bersedia membuka pasar dalam negeri bagi produksi negara lain dan menerima segala konsekuensi perdagangan bebas. Dalam 8 tahun perkembangan WTO sejak diresmikan, tidak ada sebuah negara pun yang bersedia begitu saja membuka keran impor. Bahkan negara maju seperti Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS) yang merupakan penggagas perdagangan bebas ternyata tidak berhati penuh membuka keran impor dengan menggunakan sejuta dalih (Gilpin and Gilpin, 2000). Banyak negara anggota WTO mengandukan berbagai penyimpangan dan ketidakjujuran serta ketidakadilan dalam perdagangan dunia, namun WTO hampir selalu gagal membuat penyelesaian atau bahkan mendapat kesulitan membawa masalah itu ke dalam sidang anggota-anggota WTO (Buckinghann et al., 2001). Apa yang salah? Semua serba salah. Dunia telah menyaksikan bagaimana negara berkembang menjadi korban perdagangan itu sendiri. Negara maju enggan membuka pasar dalam negeri, walaupun mereka sangat gencar memaksa negara lain membuka kran impor. Sementara negara berkembang sekalipun membentuk kekuataan massa bersama-sama namun tidak mampu menuntut AS dan UE untuk mencabut kebijakan subisidi produk pertanian. Perdagangan bebas tidak menjamin distribusi pendapatan di antara negara dunia. Negara miskin semakin miskin, negara kaya semakin kaya. Ada kesan yang kuat bahwa kebodohan suatu negara menguntungkan bagi negara lain, karena negara yang seperti itu tidak pernah menjadi pesaing atau ancaman bagi negara yang kuat. Negara yang lemah akan terpaksa menyerahkan sumberdaya produktif yang dikuasainya untuk dieksploitasi oleh negara maju dan untuk kepentingan negara maju. Sebagai contoh adalah Amerika Serikat dan Canada. Sebagai dua negara kaya yang tidak perduli dengan kemiskinan negaranegara Amerika Latin yang menjadi tetangganya.Perseteruan tidak saja terjadi antara pendukung perdagangan bebas sesamanya1, tetapi juga dengan negara-negara yang anti perdagangan bebas. Perseteruan ini telah terjadi sejak zaman Ricardo dan sampai sekarang tidak dapat diselesaikan. Tulisan Wibowo (2003) sedikit banyak dapat menggambarkan perkembangan terakhir tentang perseteruan antara kubu yang mendukung liberalisme pasar dunia yang bergabung dalam World Economic Forum (WOF) dan pihak yang menentang yang bergabung dalam World Social Forum (WSF) yang semakin meruncing. WSF mendakwa bahwa liberalisme perdagangan dengan azas persaingan, kapitalisme dan spesialisasi merupakan biang kerusakan lingkungan, penjajahan ekonomi, pengurasan negara maju terhadap negara lemah dan sebagainya. Wibowo memprediksi bahwa pertarungan WOF dan WSF akan terus mewarnai dunia abad ke 21. Rangkaian peristiwa tersebut telah menjadi saksi sejarah yang memperlihatkan bahwa konsep keunggulan komparatif dan daya saing gagal membuktikan keunggulan dirinya.Sungguh, dunia sedang melaksanakan suatu sistem perdagangan yang tidak nyaman. Apakah perdagangan internasional itu harus seperti ini? Pertanyaan ini belum juga terpecahkan (Gilpin dan Gilpin, 2000), bahkandalam abad 21 sekarang (Wibowo 2003).Sidang WTO yang berlangsung di       Cacun Meksixo tahun 2003 telah gagal mengambil kesepakatan pengurangan tarif dan subsidi di negara maju (Wibowo, 2003)2. Pada masa datang, perdebatan akan terus berlangsung antara para pendukung liberalisme dan para pendukung proteksionisme. Memang, hanya sedikit negara yang benar-benar melaksanakan perdagangan bebas (Krugman and Obstfeld, 2002). Bahkan kehadiran free trade dan WTO itu sebenarnya tidak ada. Demikian juga dalam sidang KTT para pemimpin Benua Amerika (2004) yang menilai liberalisasi perdagangan yang dimotori Amerika Serikat telah gagal memperbaiki sosial ekonomi di kawasan itu. Berdasarkan pengalaman buruk yang terjadi di atas, banyak negara meragukan manfaat sosok perdagangan bebas saat ini. Another World Is Possible demikian slogan WSF baru baru ini.

B.2 KEKURANGAN  LIBERALISME EKONOMI

Dalam Teori Perdagangan Internasional

Konsep perdagangan bebas pertama kali dirumuskan oleh Adam Smith yang kemudian dikembangkan oleh David Ricardo tahun 1887 (Pressman, 1999). Masa itu adalah zaman negara-negara Eropa melakukan penjajahan dan ahli-ahli ekonomi di negara tersebut sedang berdebat sengit antara pro dan kontra tentang peran pemerintah dalam perdagangan. Ricardo adalah salah seorang ekonom yang tidak menyetujui kebijakan pemerintah dalam pembatasan perdagangan. Menurut Ricardo alasan utama yang mendorong perdagangan internasional adalah perbedaan keunggulan komparatif relatif antar negara dalam menghasilkan suatu komoditas. Suatu negara akan mengekspor komoditas yang dihasilkan lebih murah dan mengimpor komoditas yang dihasilkan lebih mahal dalam penggunaan sumberdaya (Lindert and Kindleberger, 1983). Perdagangan internasional semacam itu akan mendorong peningkatan konsumsi dan keuntungan. Sebaliknya kebijakan pembatasan perdagangan oleh pemerintah justru memberikan kerugian yang lebih besar bagi masyarakat dalam negeri dibandingkan manfaat yang diperoleh. Setelah Ricardo, dalam masa 115 tahun berlangsung, banyak ekonom lain muncul memberikan kritikan atau memperluas dan mendorong penyempurnaan konsep perdagangan keunggulan komparatif. Pada umumnya para ahli ekonomi tidak ada yang membantah thesis Ricardo tetapi lebih memfokuskan diri dalam mengembangkan konsep perdagangan yang lain seperti konsep keunggulan daya saing dan sebagainya. Dalam semua konsep perdagangan internasional yang pernah ada, terdapat kesamaan pijakan yakni bahwa pasar adalah bebas dan bahwa persaingan akan meningkatkan efisiensi dan bahwa dunia benar-benar secara absolut dipisahkan oleh batas-batas negara. Namun demikian model perdagangan Ricardo nerupakan gagasan besar dalam ilmu ekonomi (Krugman and Obstfel, 2002). Sekarang, ajaran Ricardo dapat ditemukan pada hampir semua buku teks ekonomi perdagangan internasional yang ditulis oleh ekonom dunia terkemuka. Di manakah sisi gelap konsep keunggulan komparatif relatif (dan termasuk keunggulan dayasaing)?.

Kebijakan perdagangan dunia yang bebas berdasarkan keunggulan komparatif dan daya saing bukan cara untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya yang langka dan bukanlah cara yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan dunia. Perdagangan bebas dengan cara melakukan persaingan hanya menguntungkan bagi Negara-negara yang perekonomiannya secara total kuat. Atas dasar itu setiap negara dunia terutama negara-negara berkembang hendaknya yakin bahwa turut serta dalam perdagangan dunia WTO bukanlah jalan keluar bagi meningkatkan kesejahteraan bangsa dan dunia. Atas dasar itu negara-negara berkembang harus menurunkan sema-ngat juang mendapatkan keadilan dalam WTO khususnya dalam menghadapi negara-negara maju, karena tidak akan bermanfaat. Apa yang harus dilakukan adalah meningkatkan dan mengembangkan kerjasama perdagangan dengan negara berkembang lainnya dan negara-negara maju dengan azas saling membutuhkan. Singapura adalah negara yang mempunyai wilayah geografis sangat kecil namun berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kerjasama perdagangan dengan berbagai negara dunia.Sebagai contoh kasus Pengakuan Chirac atas kelemahan kinerja pemerintahannya dalam mengatasi kemiskinan dan kurangnya perhatian mereka terhadap kaum miskin, menunjukkan akar sesungguhnya dari krisis sosial di negara ini. Kerusuhan Perancis merupakan peringatan bagi semua negara-negara industri yang lebih mementingkan kemajuan ekonomi dibanding dengan keadilan sosial. Diabaikannya keadilan telah membuat kawasan-kawasan pinggiran kota menjadi tempat berkumpulnya kaum miskin dan fenomena ini menjadi bukti bahwa ternyata paham liberalisme ekonomi hanya akan memperlebar jurang antara si kaya dan si miskin.

BAB III PENUTUP

C.1 .KESIMPULAN

Arus liberalisasi dan globalisasi ekonomi sebagai konsekuensi dari kesepakatan GATT/WTO (General Agreement on Tariff and Trade/World Trade Organization) yang ditopang oleh revolusi teknologi transportasi, telekomunikasi dan informasi telah membuat perekonomian setiap negara terintegrasi secara global. Liberalisasi memaksa setiap negara membuka segala rintangan dan investasi internasional serta menghapus segala proteksi dan subsidi bagi perekonomian domestiknya. Perpaduan antara leberalisasi ekonomi dan revolusi teknologi transportasi, telekomunikasi, dan informasi telah mengaburkan batas-batas geografis antarnegara sehingga setiap negara terintegrasi ke dalam suatu masyarakat dunia tanpa batas (borderless world). Dalam kondisi demikian, menciptakan kemandirian ekonomi hanya dapat dipertahankan dengan memantapkan ketahanan ekonomi melalui peningkatkan daya saing.

C.2 SARAN

Penerapan Liberalisasi ekonomi  oleh banyak kalangan dianggap sebagi suatu hal yang akan banyak merugikan Negara-Negara yang tidak memiliki daya saing yang tinggi terutama dalam konteks perdagangan internasional atau di perdagangan bebas, namun pergerakan lioberalisasi ekonomi tidak dapat kita cegah karena tuntutan kebutuhan suatu Negara yang beragam, Adanya swastanisasi yang mana pemerintah tidak terlalu mencapuri lagi persoalan ekonomi yang diswastanisasikan, oleh karena itu tugas kita adalah membuat atau menfilter diri kita dengan kemampuan daya saing yang harus diasah dan dikembangkan setiap saat agar mampu bersaing di kancah pasar bebas.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Levitt, T.(1983) ‘The Globalisation of markets’, Hardvard Business Review, May –    June

Hassan wirajuda N.DR,. 2004.”Hubungan Internasional Percikan Pemikiran Diplomat Indonesia”PT Gramedia Pustaka Utama,Jakarta,

Adam Kuper,Jessica Kuper. (2000).”Ensiklopedia Ilmu-Ilmu sosial”,”Penerbit Rajawali Pers,Jakarta

Kishore Mahbubabni,(2005),”Bisakah Orang Asia Berpikir”,PT Mizan

Publika,Bandung

Mafred B. Steger(2005)”GLOBALISME Bangkitnya Idiologi Pasar”,,Lafadl Pustaka, Jogjakarta

REFERENCE:

Gay, Peter. “Liberalism.” Microsoft® Encarta® 2006 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2005. Microsoft ® Encarta ® 2006. © 1993-2005 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Lekachman, Robert. “Economics.” Microsoft® Encarta® 2006 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2005. Microsoft ® Encarta ® 2006. © 1993-2005 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s